Beritaterheboh.com - Penyanyi Rizky Febian melaporkan kematian sang ibu, Lina Jubaedah ke pihak kepolisian. Pria yang akrab disapa Iky itu ingin mengetahui dengan jelas penyebab kepergian sang ibu yang menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (4/1). Ditemui di kediaman ayahnya, Sule, di kawasan Bekasi, Jawa Barat, Rabu (8/1), Rizky Febian menegaskan ia tidak mencurigai atau menuduh siapa pun dalam laporannya itu. Termasuk Teddy, pria yang menjadi suami Lina. Terkait hubungannya dengan Teddy, penyanyi berusia 21 tahun itu bersedia angkat bicara. Ia mengaku selama ini memang tak menjalin komunikasi dengan suami mendiang ibunya. “Sebenarnya, dari awal perceraian (Sule dan Lina) juga, dari beliau (Teddy) enggak ada komunikasi ke saya,” ungkap Rizky Febian.
Yang ia lakukan sejak kedua orang tuanya bercerai, alih-alih mengakrabkan diri dengan Teddy, hanyalah terus menjalin hubungan dengan sang ibu. Rizky Febian juga mengakui, walau kerap berkomunikasi melalui aplikasi berbalas pesan, dirinya amat jarang bertemu Lina. “Sama mama juga aku ketemu hanya beberapa kali dari dua tahun ke belakang, hanya empat kali. Lebih fokus ke mamanya, sih, kalau aku pribadi. Kalau dari pihak suaminya, tidak ada chat atau apa pun,” tuturnya.
Mengakhiri perbincangan mengenai itu, Rizky Febian mengatakan bahwa Teddy justru baru menghubunginya setelah Lina meninggal dunia. “Beliau berani chatting itu, ya, setelah mama meninggal dunia. Barulah ada chatting. Itu pun kemarin. Itu juga menceritakan ingin ketemu untuk bicarakan aset ini-itu segala macam,” pungkas Rizky Febian.
Lina Jubaedah, istri Teddy yang juga merupakan mantan istri Sule meninggal dunia pada Sabtu (4/1). Lina disebut jatuh pingsan usai salat Subuh di kediamannya bersama Teddy di Jalan Neptunus, Kompleks Margahayu Raya, Bandung. Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Al-Islam. Namun sesampainya di rumah sakit, Lina dinyatakan meninggal dalam perjalanan. Lina kemudian dibawa kembali ke rumah untuk dimandikan dan disalatkan. Lina lantas dimakamkan pada siang harinya di Pemakaman Keluarga Teddy (Astana Kecil), Jalan Sekelimus Utara I, Bandung. Namun belakangan kabar kepergian Lina banyak menarik perhatian setelah Rizky Febian, anak sulung Lina dari pernikahannya dengan Sule melaporkan kejanggalan kepergian sang ibu. Yakni ditemukannya luka lebam di bagian leher dan tubuh.
Atas laporan Rizky Febian, polisi telah melakukan olah TKP di kediaman Lina dan Teddy di Kompleks Margahayu Raya, Bandung, Rabu (8/1). Dalam olah TKP itu, polisi mengamankan sejumlah barang, yakni CCTV, komputer PC berwarna hitam, dan ponsel milik Lina. "Bukan diamankan, mungkin buat jadi biar tahu. Jadi dari CCTV kan diambil semua sama PC juga tadi. Selain itu handphone-nya bunda dicek, saya kasih," kata Teddy. Teddy mendukung penuh langkah polisi. Sebab, hal itu dilakukan demi menemukan kebenaran terkait penyebab kematian Lina. “Biar semua tahu bahwa itu kematiannya wajar, jadi saya sendiri tetep ke wartawan open," tutup Teddy.(kumparan.com/Artikel Asli )
from Berita Heboh https://ift.tt/37SMIwJ
via IFTTT
Beritaterheboh.com - Makam Lina Jubaedah, mantan istri Sule, dibongkar guna kepentingan autopsi. Dikabarkan, makam Lina akan dipindahkan usai proses tersebut dilakukan. "Kita masih diskusi dulu soal itu (pemindahan makam)," ucap Bahyuni Zaili, salah satu kuasa hukum Rizky Febian saat ditemui di area pemakaman Lina, Jalan Sekelimus, Kota Bandung, Kamis (9/1/2020). Menurut Bahyuni, pemindahan makam harus melalui diskusi antar keluarga baik anak-anak Lina maupun suaminya, Teddy. Bahyuni menambahkan, ada dua opsi lokasi pemindahan yaitu di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nagrog dan tempat pemakaman keluarga di Cimahi. "Rencana ke Nagrog. Keluarga juga ingin ke Cimahi. Yah intinya kita diskusikan dulu bersama. Kita mah inginnya damai nggak ramai dulu," katanya. Seperti diketahui, makam Lina dibongkar pagi ini. Proses pembongkaran berlangsung tertutup. Kain berwarna merah dipasang mengitari area makam. Sejumlah aparat kepolisian juga tampak berjaga di sekitar area pemakaman. Di sekitar lokasi, warga juga tampak berdatangan. Selain itu, tampak pula keluarga kandung dari Lina di dekat area pemakaman. Makam dibongkar guna kepentingan autopsi menindaklanjuti laporan Rizky Febian. "Iya ini mau autopsi," kata Bahyuni. Pantauan detikcom, proses pembongkaran berlangsung tertutup. Kain berwarna merah dipasang mengitari area makam. Proses pembongkaran diwarnai hujan cukup deras.
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Saptono Erlangga Waskitoroso sebelumnya mengatakan proses autopsi bisa saja dilakukan apabila ada temuan dari penyidik. "Nanti dilihat dari hasil awal visum. Kalau ada kejanggalan di dalam, nanti ada tindak lanjut," ucap Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Saptono Erlangga Waskitoroso saat dikonfirmasi.(detik.com)
from Berita Heboh https://ift.tt/3040byR
via IFTTT
Beritaterheboh.com - Sebuah mobil Toyota Innova dikejar-kejar hingga diamuk massa membuat heboh warga di Jakarta Selatan. Usut punya usut, pengejaran itu ternyata dilatarbelakangi pencurian yang dilakukan oleh pengemudi mobil tersebut. Dirangkum detikcom, peristiwa yang sempat viral itu terjadi pada Rabu (8/1/2020) sekitar pukul 11.00 WIB. Mobil bernopol B-2128-BBI itu sempat dilempari batu oleh sejumlah warga di Jl Pelita Abdul Majid, Cipete Selatan, Jakarta Selatan. Kapolres Jakarta Selatan Kombes Bastoni Purnomo mengatakan, pengemudi mobil bernama Felix (40) dikejar warga karena melakukan pencurian 15 buah sabun pembersih muka di sebuah minimarket di Jl Kemang Raya, Jakarta Selatan. "Setelah diperiksa mobilnya, ternyata ditemukan barang berupa pembersih wajah pria sebanyak 15 buah, selanjutnya pelaku dan barang bukti di bawa ke Polsek Mampang untuk pemeriksaan lebih lanjut," kata Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Bastoni Purnama dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (8/1/2020). Sebelum ditangkap warga, pelaku dikejar dari Kemang setelah aksinya dipergoki oleh karyawan. Seorang saksi di dekat minimarket sempat berusaha menghadangnya, namun Felix menabraknya dan tancap gas. "Pelaku lari ke arah pom bensin Shell yang berada di samping gedung Lotte Mart dan langsung menaiki mobil milikinya. Mobil sempat dihadang oleh saksi Beni Gaos Kurnia dengan cara menghadang di depan, namun bukannya berhenti malah hendak menabrak saksi," katanya. Kanit Reskrim Polsek Mampang Prapatan Iptu Sigit Ari menjelaskan, awalnya pelaku mendatangi minimarket di Jl Kemang Raya, Jaksel. Seorang karyawan minimarket mencurigai gerak-geriknya. "Kemudian saksi curiga, lihat di CCTV, kemudian diambil ada facial foam yang diambil," kata Iptu Sigit ditemui di kantornya, Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (8/1/2020). Benar saja, Felix kemudian keluar dari minimarket setelah mengantongi sejumlah barang. Dia lalu naik mobilnya yang diparkir di depan minimarket, sehingga karyawan mengejar dan meneriakinya. "Kemudian dikejar lah sama kasir, berikut sekuriti dan diteriaki 'maling'. Akhirnya yang ambil barang tersebut masuk ke mobilnya dia kemudian meninggalkan tempat tersebut," tutur Sigit. Mengetahui dirinya dikejar, Felix kemudian tancap gas. Sejumlah driver ojol yang mendengar teriakan itu lalu mengejarnya. Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Hingga akhirnya mobil bernopol B-2128-BBI itu tiba di Jalan Pelita Abdul Majid, Cipete Selatan, Jakarta Selatan. Mobil Felix sempat terjebak kemacetan hingga beberapa warga melempari mobil dengan batu. Saat itu Felix berhasil meloloskan diri setelah memutar balik mobilnya. Namun pelariannya tidak berlangsung lama. Warga berhasil menangkapnya lalu membawanya ke Polsek Mampang Prapatan. Dari hasil pemeriksaan diketahui ada 15 buah pembersih muka yang dicuri oleh Felix. Saat ini Felix diamankan dan diperiksa di Polsek Mampang Prapatan. Dari hasil pemeriksaan, Felix mengaku mencuri facial wash itu karena butuh uang. Rencananya facial wash itu akan dia jual. "Mungkin dia mau jual atau bagaimana kan, katanya sih mau dijual. Motifnya kan katanya untuk pengen beli makan segala macam, dia mau jual rencananya setelah diambil," katanya. Sigit menyebut, pelaku mengakui pencurian itu. Dia juga mengaku menyesal atas perbuatannya. Hingga Rabu (8/1) malam, Felix masih diamankan di Polsek Mampang Prapatan. Felix akan dijerat dengan Pasal 362 KUHP tentang pencurian.(detik.com) Video bisa geser slide:
Beritaterheboh.com - Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan belum ada penahanan yang dilakukan pihak kepolisian terhadap Aktivis Pusat Studi Antar Komunitas (PUSAKA), Sudarto. Sudarto sempat mengabarkan soal larangan Natal di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu lewat Facebook. Karena berpotensi menyesatkan, status tersangka pun disematkan pihak kepolisian kepada Sudarto. "Penangkapan Sudarto yang diberitakan jadi tersangka dan ditahan itu Sudarto sampai sekarang dia tidak ditahan," ujar Mahfud saat ditemui di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu (8/1). Meski demikian, Mahfud tak menampik Sudarto telah ditetapkan sebagai tersangka. "Bahwa dia jadi tersangka itu iya, karena ada yang melaporkan dan yang melaporkan itu sudah didukung oleh 7 orang saksi, didukung juga oleh ahli bahasa dan ahli IT sudah memenuhi syarat untuk menjadi tersangka dan bukti-bukti fisiknya sesuai dengan fakta yang di lapangan tentang misalnya Facebooknya," terangnya. Status tersangka yang disandang Sudarto, kata Mahfud, adalah langkah hukum yang diambil pihak kepolisian. Namun ia menyebut saat ini pihak kepolisian tengah mengupayakan mediasi antara Sudarto dengan pihak yang melaporkannya. "Sehingga yang akan ditempuh nantirestorativejustice ya bukan formal semata tapi restorative, hukum yang berbasis budaya kita di mana hukum itu untuk membangun harmoni bukan kegaduhan dan itu sedang diusahakan oleh Polri," ucap Mahfud. "Bahwa itu bahwa itu nanti tidak dilanjutkan itu kan tergantung pihak pihak karena ini aduan ada yang mengadu gitu ya," tutupnya. Terkait unggahan konten soal larangan Natal di Kabupaten Dharmasraya, Sudarto dilaporkan Harry Permana selaku Ketua Pemuda Jorong Kampung Baru di Nagari Sikabau tertanggal 29 Desember 2019. Selama ini, Sudarto dikenal sebagai seorang aktivis hak kebebasan beragama dan berkeyakinan di Sumatera Barat. Saat ramai kabar larangan Natal di Kabupaten Dharmasraya dan Sijunjung, Sudarto menjadi salah satu orang yang paling aktif bersuara. Sementara itu, beredar informasi Sudarto diamankan di kediamannya Jalan Veteran, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Selasa (7/1), sekitar pukul 13.30 WIB. Menurut kuasa hukum Sudarto, Wendra Rona Putra, penangkapan dan penetapan status kliennya itu terkesan tergesa-gesa dilakukan pihak kepolisian. Wendra pun tengah mempersiapkan proses praperadilan bagi kliennya tersebut. "Dalam waktu beberapa hari ke depan, kami akan siapkan gugatan praperadilan. Termasuk pelaporan dugaan maladministrasi ke Ombudsman. (Rencananya) belum bisa dipastikan, tapi kemungkinan dalam tiga hari ke depan," kata Wendra, Rabu (8/1).(kumparan.com/artikel asli)
from Berita Heboh https://ift.tt/2NavqmJ
via IFTTT
Beritaterheboh.com - Teddy mengaku bersedia apabila makam istrinya, Lina Jubaedah dibongkar buat keperluan autopsi. Dia sama sekali tidak keberatan. "Nggak keberatan juga diautopsi. Kalau memang dari pihak keluarga dan anak-anaknya setuju," ujar Teddy ditemui di kediamannya di kawasan Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/1/2020). Kendati begitu, dia juga bilang tidak tega melihat jenazah ibu Rizky Febian itu harus kembali diangkat dari liang lahat. "Tapi kalau saya pribadi, kasihan aja. Harusnya sudah tenang malah diramein lagi ini itu. Makanya mungkin pihak kepolisian yang bekerja keras buat menemui titik terang," sambungnya. Terlepas dari itu, Teddy juga membeberkan alasan mengapa jenazah Lina Jubaedah tidak sempat divisum sebelumnya. "Visum nggak ada, saat kejadian nggak ada visum nggak apa. Karena dokter sudah bilang meninggal dalam perjalanan," kata Teddy. Seperti diketahui, anak sulung Lina Jubaedah dan Sule, Rizky Febian lapor polisi karena merasa ada kejanggalan dalam kematian ibunya. Dia menduga ada luka lebam di jenazah Lina Jubaedah. Lina Jubaedah, ibu kandung Rizky Febian dan mantan istri Sule sendiri meninggal dunia pada Sabtu (4/1/2020) pagi. Bantah Pernah Larang Keluarga Lina untuk Melihat Jenazah Kematian Lina Jubaedah dianggap janggal oleh putra sulungnya, Rizky Febian. Hal itu membuat Rizky melaporkan kejanggalan tersebut ke polisi. Dalam laporan yang disertakan, Rizky menyebut adanya lebam di tubuh Lina. Suami mendiang Lina Jubaedah, Teddy, pun memberikan pernyataan, bahwa tidak ada lebam di tubuh Lina. Ketika itu, menurut Teddy, keluarga termasuk Rizky turut memandikan jenazah bersama pengurus DKM Masjid Al-Muhajirin. Meski demikian, dia mempersilakan polisi melakukan serangkaian pemeriksaan agar teka-teki yang menimbulkan pertanyaan soal kematian Lina terungkap. "Enggak ada (lebam)," kata Teddy ketika ditemui usai proses olah TKP oleh polisi di kediamannya di Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/1). "Soalnya, yang mandiin juga ibu-ibu, pada tahu semua, bukan pihak rumah sakit. Kalau rumah sakit 'kan langsung dibungkus. Kalau di sini 'kan, dari pihak DKM, A' Iky juga ikut," lanjut dia. Disinggung soal larangan Teddy pada keluarga untuk melihat jenazah Lina, Teddy membantah hal tersebut. Menurut dia, ada bukti di CCTV yang memperlihatkan kedatangan keluarga Lina dan dia tidak melarang mereka untuk melihat jenazah. "Siapa yang melarang lihat jenazah, itu buktinya bisa masuk rumah saya (melayat)," kata Teddy. "Kalau saya dipersilakan soalnya belum ditali rapi, bisa dilihat, bisa dibuka, dan enggak ada ucapan dilarang," ucap dia. Namun, menurut kepercayaannya, Teddy mengakui air mata yang jatuh ke wajah jenazah dianggap membebani. Dia pun meminta keluarga untuk ikhlas merelakan dan melepas kepergian Lina. "Kalau air mata, ya, nanti membebani, yang ditinggalin harus sabar," tutupnya. Lina Jubaedah, istri Teddy yang juga merupakan mantan istri Sule meninggal dunia pada Sabtu (4/1). Awalnya Lina disebut jatuh pingsan usai salat Subuh di kediamannya bersama Teddy di Jalan Neptunus, Kompleks Margahayu Raya, Bandung. Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Al-Islam. Namun sesampainya di rumah sakit, Lina dinyatakan meninggal dalam perjalanan. Lina kemudian dibawa kembali ke rumah untuk dimandikan dan disalatkan. Lina lantas dimakamkan pada siang harinya di Pemakaman Keluarga Teddy (Astana Kecil), Jalan Sekelimus Utara I, Bandung. Namun belakangan kabar kepergian Lina banyak menarik perhatian setelah Rizky Febian, anak sulung Lina dari pernikahannya dengan Sule melaporkan kejanggalan kepergian sang ibu. Yakni ditemukannya luka lebam di bagian leher dan tubuh.(Kumparan.com/suara.com)
from Berita Heboh https://ift.tt/2QZEhZp
via IFTTT
In the late Aughts, Matisse dropped out of college to pursue apprenticeships in hand-thrown, salt-fired stoneware. He settled in the foothills of the Blue Ridge Mountains and built his own kiln, making limited quantities of decorative ceramics and selling them to a small but “ravenous” (Matisse’s word) group of collectors. He met Connie in 2009 at a farmer’s market where she was selling cheese, and the two then ran the enterprise together until they invited John, a fellow potter, over for a weekend of drinking wine, when the foundations of what later became East Fork were first laid.
For Matisse, it was a change. The life of a potter is a lonely one, he says, punctuated by small bursts of social activity. And while those days were filled with artistic seclusion, he never considered himself part of the “art world.” Even now, whenever conversations dip into artistic abstraction, Matisse instinctively returns to pottery’s egalitarian purpose.
“It’s functional, humble, and people from all walks of life can appreciate and use it,” he says. “Making functional objects, instead of something to be observed.
“I love being part of something that extends beyond the individual. I wasn’t in [the art world], I wasn’t being asked to do something avant-garde or new,” he says. “There is also a very high likelihood that I would not be a very good artist, and I would make silly, bad crap. Which doesn’t sound very fun.”
If Matisse sounds wary of calling himself an artist, there’s good reason.
“There is a high bar [for art] in the family,” Matisse says, “and I wouldn’t want to come in under it,” he says.
Alex Matisse grew up in Groton, Massachusetts, in a household drenched in art. His mother was into textiles and castings; his father, a self-described artist-inventor. His sister is a painter and his brother is a photographer. His grandfather, Pierre, imported and displayed Miró, Dubuffet, Le Corbusier, Chagall, Calder, Giacometti and other iconic 20th century European artists’ work in his New York gallery. Alex is also the step-grandson of readymade art pioneer Marcel Duchamp.
And then there’s his great-grandfather, Henri Matisse — you might have heard of him — whose paradigm-shifting use of color created an artistic legacy to rival that of Picasso. Alex jokes he took to pottery because “no one else in the family had pursued it yet.”
But Alex, for his part, was always a potter; he claims he was throwing “fairly seriously” by the seventh grade. His childhood home, a forlorn Baptist church that his parents rejuvenated, acted as the family studio.
East Fork formally launched in 2013. Alex, John, or one of a handful of apprentices throw each piece by hand using clay sourced from the surrounding region. The original collection was created using a single wood-fired kiln, with house-made glazes and colors. Starting around two years ago, its masterfully drawn brand and distinctive, brown-flecked pottery started to find real traction as the company began developing a modest following. In 2017, they made 2,269 mugs on a potter’s wheel, each and every handle hand-pulled. The small company added some apprentices in 2018 and pushed that number up to 3,078 — still well below demand. Early adopters took photos of their prize and dubbed it #TheMug.
In an effort to keep pace, Matisse halted production to hunt down the vestiges of America’s long-gone ceramics-manufacturing industry: presses, pugmills, kilns and jiggers from the early 1900s. They tried different forming techniques — slip casting, jiggering, RAM pressing — only to face delays; a process expected to take less than three months took nearly a year. They hired non-potter locals, trained them and re-released the Mug as a partially handmade product with a lower price. It sold out again.
By February 2019, the coffee mug had a wait list just shy of 3,000 people, East Fork had a new factory with dozens of new employees, and Matisse & Co. were the owners of the largest collection of early 1900s pottery-making equipment in America. In April, a day before the Mug was re-released yet again (this time made using more machines), Food Network published a 381-word article titled “The Internet’s Favorite Mug is Finally Back In Stock Tomorrow.” The Mug sold out again. Then The New York Times featured it in print. Television networks called about including it in Mother’s Day coverage. Emails begging for more mugs stacked up.
“We’d done a very good job marketing the Mug,” Connie says, “and maybe turned up the gas on the marketing of it long before our production team was able to keep up with existing demand. But once that fly wheel starts spinning, it’s really hard to slow it down.”
A couple weeks into April, with the sword of viral fame hanging over him, Alex wrote a blog post. In the piece, titled “Big Feelings from the CEO,” he publically answered the question of why, in his words, they couldn’t “just fucking make more of them?!”
“We have not chosen the easiest route. We are not the Warby Parker of pottery — as much as journalists like to lean on that line. We can’t flip a switch and make more overnight. All we can do is show up every day and try to make more than we did the day before,” he wrote.
Today, The Mug starts as an iron-rich clay mixture sourced from Georgia, Tennessee, Virginia and North Carolina. It’s loaded into a pugmill that creates a homogenous, well-mixed tube of milk-chocolate-colored clay. The clay is cut into long pieces using a wire cutter, then placed in a mold, pressed, and left to dry for a day. To create the handle, RAM presses slam 30 to 130 tons of pressure on a plaster mold filled with clay; it’s faster than making each handle free-form, though the stamp creates seams on the handle that require hand cleaning before a clay-water mixture called “slip” is used to glue it to the Mug by hand. It dries for another day before its first firing, after which it’s glazed, dipped in wax and left to dry again. This is followed by another firing, quality control, sanding and touch-ups. Then, finally, it’s ready for sale.
“Keeping up with demand would be a twenty-four-seven job. We’re trying to do it during regular working hours,” Matisse says. “It can be fast paced.”
Yet Matisse moves around the factory slowly. He takes time to talk shop with the potters tasked with melding handle to mug that day; while he hasn’t thrown anything himself for more than a year, he still goes digging through the tool bin at the station for his preferred brush. He seems more friend than boss. (Matisse comes by that geniality honestly: our two conversations, in Asheville and New York, were both interrupted multiple times by former employees gleefully flagging him down.)
“Our company serves our employees and community as much as our customers,” Connie said in a February 2019 interview with Architectural Digest. When preparing the space for their current production site, for example, East Fork brass carved a commercial-grade kitchen between the office and factory space. Staff lunches are shared twice a week at a community table in the front room.
Alex admits his views on employment may sound näive, but it’s something he has to think about.
“Ceramics are inherently labor-intensive. Even when we scale to a point of bringing in more automated lines of production, it will still be very much a team sport to get the pottery across the finish line,” he says.
“The challenge is how we continue to ensure that this is a great place to come into work every day — whether you’re in the shipping department, cleaning the bathrooms or a VP. One of my own metrics of success is how happy and satisfied our whole team is with the work that they are [each] doing as an individual.”
East Fork today churns out about 450 mugs a week — roughly six times the volume of years past. With the help of new machinery, they hope to get that number to 600 by year’s end. Inventory is replenished online each Tuesday at noon, but the Mug hasn’t remained in stock for more than a few hours in over a year.
Learning to feed such insatiable demand is starting to pay off. This year, for the first time, East Fork should break even financially. The company expects to become profitable in 2020. And while Matisse is pleased with the progress, it’s not progress for progress’s sake that matters most to him. While he’s taken calls from venture capital firms with track records for pushing brands to enormous valuations, Matisse sees VC money as a poison pill — a Faustian bargain that would demand they meet impossible-to-reach sales figures. He’s turned it all down.
“I think of success as making a significant impact on the community we’re in,” Matisse says. “Growth isn’t just something you aim for just to grow. You grow toward more and better things—more employment opportunities, more meaningful work, more stability.
”Success,” he says, “is being here in twenty-five years.”
Will Price is Gear Patrol's home and drinks editor. He's from Atlanta and lives in Brooklyn. He's interested in bourbon, houseplants, cheap Japanese pens and cast-iron skillets — maybe a little too much.