Beritaterheboh.com - Salah satu unggahan Instagram Ruben Onsu menampilkan foto ujian Bahasa Inggris salah satu SD (sekolah dasar) di Tulungagung, Jawa Timur. Di soal itu, terlihat potret dan nama sang anak, Betrand Peto. "He is Betrand Peto. He is a young singer from NTT. He has tan skin, short and straight hair also cute face. We can watch him on television or YouTube. He is stepchild of Ruben Onsu and Sarwendah. Ruben's families love him very much," bunyi soal tersebut. "Wahhh ada di soal ujian, walau aku gak mengerti artinya tapi aku yakin murid-murid pasti bisa jawab pertanyaannya. Coba kalau kalian jawabannya apa??" tulis Ruben Onsu sebagai caption foto yang diunggahnya pada hari ini, Jumat (13/3). Ruben Onsu mengaku dirinya mengetahui hal itu dari penggemarnya. Dengan santai, presenter berusia 36 tahun tersebut kemudian memberi tanggapannya. "Itu gue ketawa karena enggak ngerti artinya, 'kan. Tapi, gue yakin, pasti itu baguslah. Sampai sekarang, gue belum paham. Enggak tanya juga," ujar Ruben Onsu saat ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Jumat siang. Suami penyanyi Sarwendah itu mengaku tak paham apa arti pertanyaan berbahasa Inggris tersebut. Yang jelas, ia tak akan mempermasalahkannya selama tak mengandung makna negatif. "Menurut aku, enggak apa-apa. Itu, 'kan, pertanyaannya juga positif. Enggak tahu (artinya apa), tapi gue perhatikan orang banyak yang bilang bagus. Gue ngakak saja pas ada di soal Bahasa Inggris yang bapaknya enggak ngerti. Gue juga bingung, ya, sudahlah, serahkan pada netizen saja yang mengartikan," tuturnya. Mengakhiri perbincangan, Ruben Onsu mengatakan dirinya belum memberi tahu Betrand Peto perihal itu.(kumparan.com)
Beritaterheboh.com - Ada kabar mengejutkan dari Jennifer Dunn. Cewek yang akrab disapa Jedun ini dikabarkan masih berstatuskan istri orang meski dirinya kini telah menikah dengan Faisal Harris. Menurut kabar yang beredar, Jedun memasukkan gugatan cerainya ke Pengadilan Agama Cibinong, Bogor, Jawa Barat, pada 21 Januari lalu. Jedun menunjuk Gillang Gandi Mukthi dan Suprihatin sebagai kuasa hukumnya. Hal ini sudah dibenarkan oleh Dede selaku panitera Pengadilan Agama Cibinong. "Oh, betul (Jedun gugat cerai Bobby), iya. (Gugatan) sudah diterima," ucapnya saat dihubungi kumparan. kumparan pun melakukan pengecekanmelalui Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Agama Cibinong, gugatan cerai Jedun terdaftar dengan nomor 568/Pdt.G/2020/PA.Cbn. Menurut informasi yang tertera, sidang pertama telah digelar pada 26 Februari lalu. "Yang pertama kalau enggak salah, Jennifer Dunn kuasanya yang datang. Tergugatnya tidak datang, suaminya. Sidang berikutnya itu menghadirkan Jennifer dan tergugat," jelas Dede. Nantinya, sidang ke-2 akan diadakan pada 1 April mendatang. Agendanya adalah pemanggilan tergugat dan menghadirkan prinsipal penggugat. kumparan telah mencoba menghubungi pihak Jennifer Dunn dan suami sirinya, Faisal Harris. Namun, belum ada respons. Sebelumnya, hubungan Jennifer Dunn dan Faisal Harris mendadak menjadi sorotan sejak video yang memperlihatkan dirinya tengah dilabrak oleh Shafa Aliya Harris, putri Faisal Harris dari pernikahannya dengan Sarita Abdul Mukti, beredar luas di media sosial pada November 2017. Dari video tersebut, terungkap bahwa Jedun adalah orang ke-3 dalam pernikahan Harris dan Sarita. Rupanya, perempuan berusia 29 tahun itu telah menikah siri dengan Faisal Harris. "Jennifer Dunn dan Faisal Harris adalah suami-istri. Dibuktikan dengan surat dan saya sudah lihat suratnya. Proses itu sudah dilakukan9 Desember 2016," ujar Pieter Ell, kuasa hukum Jennifer Dunn saat itu. Faisal Harris dan Sarita pun resmi bercerai pada 14 November 2018, menjadikan Jedun sebagai istri pertama Faisal Harris.(kumparan.com/artikel asli)
from Berita Heboh https://ift.tt/33fqbsG
via IFTTT
Beritaterheboh.com - Seorang perempuan Amerika Serikat (AS) yang pulih dari virus korona memiliki pesan sederhana bagi orang-orang yang khawatir: Jangan panik! Dia juga berpesan agar tetap tinggal di rumah jika merasa sakit. Elizabeth Schneider tinggal di Seattle, kota terbesar di negara bagian Washington, yang memiliki kematian terbanyak di AS akibat penyakit yang melanda dunia. Perempuan Pria 37 tahun, yang memiliki gelar PhD di bidang bioengineering itu mengatakan, dia berbagi kisahnya untuk memberi sedikit harapan kepada orang-orang melalui pengalamannya yang relatif ringan terkait korona, di mana dia merawat diri sendiri di rumah. "Jelas, itu bukan sesuatu bisa diabaikan sekali, karena ada banyak orang yang berusia lanjut atau memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya. "Itu berarti bahwa kita harus ekstra waspada untuk tinggal di rumah, mengasingkan diri dari orang lain." Pekan ini, otoritas kesehatan AS yang mengutip data China menyatakan ada 80 persen kasus ringan, sedangkan sisanya kasus serius yang memerlukan rawat inap, terutama orang di atas usia 60 tahun dan orang-orang dengan penyakit seperti diabetes, jantung, atau penyakit paru-paru. Schneider pertama kali mulai mengalami gejala mirip flu pada 25 Februari, tiga hari setelah pergi ke pesta yang kemudian diidentifikasi sebagai tempat di mana setidaknya lima orang lainnya juga terinfeksi korona. "Saya bangun dan merasa lelah, tetapi itu tidak lebih dari apa yang biasanya Anda rasakan ketika Anda harus bangun dan pergi bekerja, dan saya sangat sibuk akhir pekan sebelumnya," katanya kepada AFP, dalam sebuah wawancara. Namun pada tengah hari, dia merasakan sakit kepala, disertai demam dan sakit di badan. Dia memutuskan meninggalkan kantor perusahaan bioteknologi tempatnya bekerja sebagai manajer pemasaran, dan pulang ke rumah. Setelah bangun dari tidur siang, Schneider mendapati suhu tubuhnya tinggi, yang mencapai 103 derajat Fahrenheit malam itu (sekitar 39,4 Celcius). "Dan pada saat itu, saya mulai menggigil tak terkendali, dan saya merasa kedinginan dan kesemutan pada kaki dan tangan, jadi itu sedikit mengkhawatirkan," katanya. Dia lalu meminum obat-obatan flu yang dijual bebas untuk mengobati gejalanya dan memanggil seorang teman untuk berjaga-jaga jika dia perlu dibawa ke ruang gawat darurat. Namun demamnya turun dalam beberapa hari mendatang. Schneider mengikuti laporan berita tentang virus korona. Kasus AS pertama terdeteksi di Washington pada akhir Januari. Negara bagian sejak itu menjadi pusat penyakit di AS, dengan lebih dari 260 kasus dan sedikitnya 20 kematian. Secara nasional, ada lebih dari 1.100 kasus dan 30 kematian. Karena tidak memiliki gejala yang paling umum seperti batuk atau sesak napas, "Saya pikir, oke, yah itu pasti mengapa saya tidak terkena virus korona," kata Schneider. Dia mendapat suntikan flu tetapi menganggap penyakitnya adalah jenis yang berbeda. Kunjungan ke dokter hanya akan membuatnya diminta pulang, istirahat, dan minum banyak cairan. Namun, beberapa hari kemudian, dia menemukan melalui postingan di Facebook seorang teman bahwa beberapa orang dari pesta itu mengalami gejala yang sama, dan dia semakin curiga. Beberapa dari orang-orang dengan gejala sama pergi ke dokter, di mana hasil tes mereka negatif untuk flu. Tapi mereka tidak disarankan menjalani tes virus korona karena tidak batuk atau mengalami gejala kesulitan bernapas. Mengetahui bahwa dia juga kemungkinan akan ditolak menjalani tes korona, Schneider memutuskan mendaftar dalam program penelitian yang disebut Seattle Flu Study, berharap hal itu bisa memberikan jawaban. Tim di balik kelompok itu mengiriminya alat pemeriksaan hidung, lalu hasilnya dia kirimkan kembali dan Schneider harus menunggu beberapa hari lagi. "Saya akhirnya mendapat telepon dari salah satu koordinator penelitian pada hari Sabtu (7 Maret), memberi tahu saya bahwa 'Anda dinyatakan positif terkena COVID-19'," katanya. "Saya sedikit terkejut, karena saya pikir itu agak keren," aku Schneider, sambil tertawa, meskipun ibunya menangis ketika mengetahui hal itu. "Memang, saya mungkin tidak akan merasa seperti itu jika sakit parah," katanya. "Tapi dari perspektif keingintahuan ilmiah, saya pikir itu sangat menarik. Dan juga fakta bahwa saya akhirnya mendapatkan konfirmasi bahwa itulah yang saya miliki." Pada saat ini, gejalanya sudah mereda, dan dia diberitahu oleh otoritas kesehatan setempat untuk tetap di rumah selama setidaknya tujuh hari setelah timbulnya gejala atau 72 jam setelah mereda. Sekarang sudah sepsekan sejak dia merasa lebih baik. Dia sudah mulai keluar untuk bekerja tetapi masih menghindari pertemuan besar dan terus bekerja dari rumah. Schneider mengatakan dia berharap apa yang dia lakukan, yang mungkin akan menjadi ciri berbeda dari sebagian besar kasus, dapat menghibur orang lain. "Pesannya jangan panik," kata Schneider. "Jika Anda berpikir bahwa Anda memilikinya (virus korona), atau memang iya Anda memilikinya, Anda mungkin harus dites." "Jika gejalanya tidak mengancam jiwa, tetap saja di rumah, berobat dengan obat yang ada, minum banyak air, banyak istirahat, dan periksa acara TV yang ingin Anda tonton," katanya.(Inews.id)
from Berita Heboh https://ift.tt/2TS9RLH
via IFTTT